Entri Populer

Senin, 27 September 2010

Budidaya Nila Tradisional di Tambak Payau

@Ibnu Sahidhir
Ikan nila adalah satu spesies ikan air tawar yang sangat tepat untuk menunjang ketahanan pangan di Indonesia. Ikan nila memiliki daya hidup yang sangat tinggi. Ikan nila mulai bereproduksi pada umur 4-6 bulan dan berlaku sepanjang tahun. Ikan nila dapat hidup dalam rentang salinitas sangat lebar yakni 0-40 ppt, dan masih bereproduksi teratur pada air payau. Ikan nila bersifat omnivor (cenderung ke herbivor) sehingga sangat efisien dalam perpindahan energi ekosistem. Pertumbuhan ikan nila dapat dipercepat dengan nutrisi yang tepat bahkan dapat distuntingkan (peniadaan pemberian pakan dalam selang waktu tertentu tanpa menghilangkan kemampuan tumbuhnya).
Ikan Nila hasil tambak menurut sebagian orang mempunyai kualitas daging yang lebih baik, lebih kompak, padat dan kenyal. Mungkin ini terjadi karena faktor kadar garam di perairan yang cukup tinggi. Selain itu, setelah beberapa jam pasca pemanenen, daging ikan nila hasil dari tambak ini juga tidak mudah lembek, seperti halnya daging ikan nila yang dibudidayakan di waduk. 


Tujuan
Budidaya Ikan Nila secara tradisional di tambak memiliki resiko dan biaya yang rendah. Produksinya bergantung pada padat tebar, keberadaan pupuk, kesuburan tanah dan radiasi matahari. Namun keberhasilannya ditentukan oleh banyak hal seperti ketepatan penentuan lokasi, konstruksi tambak yang baik, kuantitas dan kualitas air yang memenuhi syarat, pengelolaan tambak yang benar.

II. TATA KERJA

            Karya tulis ini disusun dengan metode pustaka.

Pemilihan Lokasi
Dalam pemilihan lokasi hal-hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah kondisi tanah, air, dan topografi. Tanah yang disarankan adalah yang berpH netral dan memiliki kandungan liat >20% sehingga mampu menahan air. Air harus memenuhi kuantitas dan kualitas air yang baik. Evaporasi yang besar yakni sekitar 2,5 cm/hari memerlukan debit minimal 3 l/detik/ha. Ikan Nila dapat mentolerir salinitas sampai 25 ppt dengan adaptasi bertahap, sehingga masih sangat aman jika dipelihara pada salinitas 10-15 ppt. Sumber air dapat berasal dari sungai, saluran irigasi, bendungan, air tanah serta tidak terkontaminasi oleh bahan kimia beracun seperti pestisida, herbisida, logam berat dan muatan bahan organic tinggi. Sedangkan rentang pasut minimal 0,6 meter. Pembuangan air pada tanah yang sedikit miring dapat dilakukan dengan mudah..

Desain dan Layout Tambak
Tambak yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Tinggi tambak pemeliharaan benih 0,8-1,0 m, tambak pendederan 1,0-1,25 m, tambak pembesaran 1,5-2,0 m. Lebar pematang >1 m dan sama dengan tingginya sedangkan sisa pematang diatas permukaan air 30-40 cm untuk kolam kecil dan 50-60 cm untuk kolam besar. Kemiringan di pematang bagian luar1:1-1:1.5 dan bagian dalam 1:2 untuk kolam kecil dapat dikurangi menjadi 1:1.
Pintu air penting untuk mengatur level air yang diinginkan saat pemeliharaan, panen maupun saat darurat. Pintu air yang baik terbuat dari beton lebar 40-60 cm (tergantung luas kolam) memiliki 3 papan pengatur air dan saluran air. Tinggi pintu air minimal 30-40 cm diatas permukaan air.

Tata letak kolam ideal memiliki dua atau lebih kolam-kolam parallel dengan sumber air suplai berbeda dengan air pembuangan

Pengelolaan Tambak

(a) Persiapan Tambak
  • Pengeringan total dengan kadar air tanah 20% untuk mempercepat pembusukan bahan organik.
  • Pemberantasan hama dapat dilakukan dengan penebaran saponin sekitar 500 kg/ha jika diperlukan.
  • Pengapuran dasar tambak dengan 250 – 300 kg CaO atau 750 kg CaCO3 per ha.
  • Pupuk kandang 1000–3000 kg per ha. Perbaikan kualitas pupuk kandang dapat dilakukan dengan menambahkan dedak 10% dan EM4 secukupnya. Setelah pupuk ditebar air dimasukkan setinggi 10 cm (difilter dengan saringan 1 mm) untuk mempercepat mineralisasi pupuk kandang selama 3 hari.
  • Air dinaikkan setinggi 80 cm kemudian dimasukkan 50 kg urea dan 50 kg TSP yang telah dilarutkan.

(b) Penebaran benih
  • Setelah 2 minggu penebaran pupuk, kemudian dimasukkan benih berukuran 10 – 15 g sebanyak 20.000 ekor per ha.
  • Pemupukan lanjutan dapat dilakukan seminggu sekali sebanyak 500 kg/ha dengan cara disebar.
  • Jika ikan nila yang dipelihara bercampur jantan betina maka dapat setelah 2-3 bulan dapat diamati untuk dipanen sebagian untuk mencegah overpopulasi.
  • Setiap minggu dapat dilakukan sampling pertumbuhan. Kuva pertumbuhan dapat dilihat pada grafik 1.


 Grafik 1. Pertumbuhan Ikan Nila selama 14 bulan

(c) Monitoring Kualitas Air
Kualitas air dicek tiap minggu. Pemberian pupuk kandang yang intensif mengakibatkan fluktuasi DO, pH, dan CO2. Pada pagi hari ketika blooming plankton melebihi batas maka DO akan turun dibawah 1 di dasar tambak. Penyerapan CO2 pada siang hari menyebabkan pH air naik dan sebaliknya pada malam hari. Angka pH yang tinggi ditambah dengan ammonia total yang tinggi mengakibatkan pembentukan ammonia tak terdisosiasi tinggi sehingga mengancam kehidupan ikan. Berikut ini standar parameter kualitas air yang baik untuk pertumbuhan nila:
• pH : 6.5-9.0
• DO : 3,0-8,0 ppm
• CO2 : 5,0-12,0 ppm
• Alkalinitas : 50,0-150,0 ppm
• Kesadahan : 50,0-250,0 ppm
• Suhu : 25,0-30,0oC
• Salinitas : 0-25 ppt
(d) Suplai Air
Air ditambahkan dua kali seminggu untuk mengganti hilangnya air karena penguapan dan perembesan.
(e) Lama Pemeliharaan
Pembudidayaan Ikan Nila dilakukan selama 120 – 180 hari (4-6 bulan).
(f) Panen dan Perkiraan Produksi
Dengan teknologi tradisional dalam 4 – 6 bulan ikan nila dapat mencapai berat 100-300 g. Panen dapat dilakukan sebagian atau keseluruhan. Perkiraan hasil per ha bergantung pada jumlah pemberian pupuk. Budidaya nila di tambak berdasarkan beberapa data dapat dihasilkan 400-3600 kg/ha untuk budidaya tradisional dan 2000-5300 kg/ha untuk budidaya semi intensif sekali panen. Produktifitas tambak tradisional dapat dilihat dalam table 1.
Tabel 1. Produktifitas Ikan Nila pada Tambak Tradisional
Padat Tebar
Input
Hasil
(kg/ha)
Keuntungan
(Ribu Rupiah)
1 ekor/m2
1,8 kg P/ha/minggu
440
-19570
1 ekor/m2
125 kg KA/ha/minggu
1162
-9530
1 ekor/m2
14,1 kg N/ha + 12,7 P/ha (per minggu)
1513
-13790
1 ekor/m2
250 kg KA/ha/minggu
1537
-4590
1 ekor/m2
750 kg KA/ha/minggu
1779
-4010
1 ekor/m2
500 kg KA/ha/minggu
1903
-1100
2 ekor/m2
18,2 kg N (urea)/ha + 5,4 kg P/ha
2045
-3730
2 ekor/m2
250 kg KA/ha/minggu
+ 17,3 kg N (urea)/ha + 3,1 kg P/ha
2317
250
1 ekor/m2
1000 kg KA/ha/minggu
2329
2300
2 ekor/m2
750 kg KA/ha/minggu
+ 29,9 kg N (urea)/ha
2709
4000
2 ekor/m2
750 kg KA/ha/minggu
+ 6,3 kg N (urea)/ha
2764
6410
2 ekor/m2
750 kg KA/ha/minggu
2825
7630
2 ekor/m2
500 kg KA/ha/minggu
+ 15,4 kg N/ha +1,9 kg P/ha
3560
17490
2 ekor/m2
750 kg KA/ha/minggu
+ 14,1 kg N (urea)/ha
3685
18930

Produktifitas terendah dicapai oleh perlakuan pemberian pupuk TSP tunggal sebanyak 1,8 P kg/ha/minggu (P dihitung dari kadarnya dalam pupuk). Produktifitas tertinggi dicapai oleh pemberian pupuk kotoran ayam kering (KA) sebanyak 750 kg dan 14,1 N (urea) kg /ha/minggu. Keuntungan rendah pada padat tebar 1 m2. Hal ini dikarenakan input terlalu berlebihan sehingga Ikan Nila tidak mampu memanfaatkan pakan alami yang tersisa. Pada tingkat tertentu semakin tinggi padat tebar akan semakin meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan alami. Semakin besar ukuran ikan semakin kurang efisien dalam memanfaatkan pakan alami. Ikan Nila tidak hanya memakan fitoplankton dan zooplankton akan tetapi juga mengkonsumsi mikroorganisme yang tumbuh di kotoran itu sendiri. Sehingga seiring peningkatan pemberian pupuk meningkat pula produktifitas tambak.
Produktifitas dapat ditingkatkan dengan pemberian pakan 1,5%-3% selama masa pemeliharaan atau setelah 1-3 bulan dari penebaran benih. Produktifitas Ikan Nila dengan metode semi intensif dapat dilihat pada table 2.
Tabel 2. Produktifitas Ikan Nila pada Tambak Semi Intensif
Padat Tebar
Input
Hasil
(kg/ha)
Keuntungan
(Ribu Rupiah)
1 ekor/m2
750 kg/ha KA/minggu
(60 hari I, kemudian pakan 3%)
2196
-10800
1 ekor/m2
750 kg/ha/minggu
(90 hari I, kemudian pakan 3%)
2223
-6930
1 ekor/m2
750 kg/ha KA/minggu (30 hari I, kemudian pakan 3%)
2349
-9840
2 ekor/m2
500 kg KA/ha/minggu
+ Pakan 1,5%/hari
4351
15110
2 ekor/m2
1000 kg KA/ha/minggu
(60 hari I, kemudian pakan 3%)
4794
14120
2 ekor/m2
Pakan 3%/hari
5305
9820

            Harga pakan yang relatif mahal tidak seimbang dengan harga jual nila sehingga sedikit keuntungan yang didapat. Pemberian pakan dapat dikurangi dengan melakukan pemupukan tambak terlebih dulu.



Hama
  • Bebesan (Notonecta)
            
      Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
      minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
  • Ucrit (Larva cybister)
     Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
      diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
  • Kodok (Rana sp)
      Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
      mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
  • Ular
      Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
      pemagaran kolam.
  • Lingsang
     
      Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.


  • Burung
            Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning. Pengendalian:      diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.

Penyakit

·         Penyakit pada kulit
Gejala            : pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh berlendir.
Pengendalian:
1.      direndam dalam larutan PK (kalium permanganat) selama 30-60 menit   dengan dosis 2 gram/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian.
2.      direndam dalam Neguvon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5%.
·         Penyakit pada insang
Gejala            : tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.
Pengendalian: sama dengan di atas.
·         Penyakit pada organ dalam
Gejala            : perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit.
Pengendalian: sama dengan di atas.

Kadang pengobatan penyakit menjadi sesuatuHal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya hama dan penyakit  pada budidaya ikan nila:
a)      Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
b)      Benih ikan benar-benar bebas penyakit dan berukuran besar (>10 gr).
c)      Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
d)     Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air dan satu pintu pengeluaran.
e)      Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.



Penutup

Faktor utama dalam budidaya tradisional yakni  kualitas air dan tanah yang baik, sinar matahari yang cukup, benih berkualitas, dan pupuk. Input pupuk kandang yang besar selain memerlukan tenaga manusia yang banyak juga menurunkan DO terutama pada pagi hari. Penting dilakukan adalah panen sebagian untuk mencegah overpopulasi karena pemijahan liar. Oleh karena itu faktor kritis dalam keberhasilan budidaya Ikan Nila tradisional adalah dengan mempertimbangkan biaya pupuk kandang (sebagai biaya utama), DO pagi hari (>1 ppm), biaya tenaga manusia, dan panen bertahap.

Referensi
Coasta Pierce, B.A. and J.E. Rakocy, eds. 1997. Tilapia Aquaculture in the Americas, Vol. 1. World Aquaculture Society. Baton Rouge, Lousiana, United States. 142-162 pp.
Hepher, B. 1988. Nutrition of Pond Fishes. Cambridge, UK. Cambridge University Press. 388 p
Hussain, M.G. 2004. Farming of tilapia: Breeding plans, mass seed production and aquaculture techniques. 149 p.
Midlen, A. and Redding, T.A. 1998. Environmental Management for Aquaculture. Chapman & Hall. 240 p.
Noor, M. 2004. Lahan Rawa: Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Sulfat Masam. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 242 p